Call: +62 813-2352-7142       |    Email: kelasmultikultural@gmail.com

Official Website

TOTTO-CHAN[1], NOVEL GADIS CILIK DI JENDELA; SEBUAH PENDEKATAN KRITIS-KEAKTORAN DAN ANALISIS KUASA-PENGETAHUAN ATAS DUNIA PENDIDIKAN ANAK


Oleh: Shiny.ane el’poesya

Totto Chan : Gadis Cilik di Jendela
Karya : Tetsuko Kuroyanagi
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2007 (Juni, Cetakan XIII)
Tebal : 272 halaman
Cover: First Asian edition cover (English)

Pendahuluan

Akhir-akhir ini banyak media masa yang memberikan perhatian khusus kepada dunia pendidikan, dengan cara menyoroti secara “rutin” masalah-masalah di seputarnya. Terlebih pasca terbentuknya kabinet Jokowi-JK yang mempunyai keinginan mendasar terkait dengan revitalisasi kebudayaan nasional (baca: Revolusi Mental), untuk mengimbangi rangkaian agenda reformasi birokrasi-kelembagaan yang telah dicanangkan kabinet-kabinat sebelumnya satu dekade terakhir.

Tak kebetulan juga, bertepatan dengan hari pendidikan nasional yang jatuh pada tanggal 2 Mei kemarin. Dalam momen ini, banyak isu yang naik kepermukaan. Baik itu yang “digarap” oleh para pengamat, aktivis, maupun oleh para praktisi pendidikan sendiri. Bahkan (“menarik”) ada salah satu iklan produk susu yang turut menggunakan isu pendidikan (baca: indonesia mengajar—yang telah menjadi brand mentri pendidikan kita) sebagai tema “jualan”nya; Forum Anti-Korupsi dan Transparansi Anggaran (FAKTA) mendekati dunia pendidikan melalui isu transparansi, prestasi dan orientasi pengelolaan dana pendidikan[2], Rita Widyasari Bupati Kukar mengetengahkan isu kenaikan intensif bagi guru-guru yang mau mengajar di tempat-tempat terpencil[3], Isu perbaikan sistem ujian nasional (UN), perombakan kurikulum, ketertimpangan akses, isu fasilitas dan infrastruktur, bergulirnya wacana pendidikan komunitas, Reswanto seorang pemuda asli Sakai berjuang bersama kelima rekannya membangun sebuah Madrasah Tsanawiyah, sekaligus mendorong anak-anak dari generasi baru kampungnya untuk “keluar” dari pola kehidupan adat yang kurang kompetitif dengan cara membekali diri dengan menempuh pendidikan hingga ke jenjang yang setinggi-tingginya, dan terakhir, pada hari tulisan ini dibuat, juga diberitakan pada salah satu televisi swasta terkait penuntutan sejumlah mahasiswa terhadap biaya sekolah gratis hingga jenjang setinggi-tingginya minimal SMA.

Jauh-jauh hari, bahkan semenjak era Ki Hajar Dewantara,[4] Soeharto, hingga era reformasi sebelum kabinet Jokowi-JK, isu pendidikan adalah selalu jadi isu yang utama untuk dibicarakan dalam rangka agenda membangun bangsa. Karena itu maka wajarlah apabila hingga saat ini masih banyak keinginan-keinginan untuk diperlukannya adanya penataaan ulang sistem/model pendidikan Indonesia sampai pada tahap yang paling idealnya, di mana—masih sama—pendidikan lewat sekolah merupakan (jadi) salah satu lokus utama untuk memulai revolusi mental-kebudayaan. Dengan bahasa lain, dimulai dengan anak-anak sekolahan. Mereka harus mengalami proses pedagogis yang efektif sehingga—sebagai wakil dari representasi masyarakatnya yang telah mendapatkan kesempatan untuk bisa menikmati berbagai fasilitas pendidikan—mampu membuat etos warga negara ini bisa terlihat lebih baik, dan siap dalam menghadapi masa depan yang semakin maju, kompetitif juga cerah; mulai dari pembekalan pengetahuan diskursif (discursive knowlegde), pengetahuan praktis (practical knowledge), sampai penanaman kesiapan pendasaran sikap mental dalam menanggapi fakta kenyataan hidup yang real, lingkungan, dan situasi yang berada disekitarnya.

Dalam konteks inilah (baca: kesibukan diskursus tentang pendidikan konvensional-formal), sebagai sebuah diskursus alternatif prihal dunia pendidikan, ke muka, saya coba hadirkan kembali salah satu Novel yang—nungkin—sudah begitu dikenal di kalangan mahasiswa-mahasiswa yang notabene studi/bergelut dalam isu pendidikan; Novel Totto-Chan: Gadis cilik di jendela karya Tetsuko Kuroyanagi seorang Novelis kelahiran Nogisaka, Tokyo, dalam sebuah pembahasan.

Landasan Teori

Pendekatan dalam membahas Novel ini menggunakan pendekatan “kritis”, sebuah pendekatan kesusastraan yang dikembangkan berdasarkan bangunan tradisi teori besar analisis struktural-konflik Marxian, lebih khusus lagi pendekatan kritis atas pendidikan yang dikembangkan oleh Paulo Freire. Meskipun sebagai sebuah novel, Totto-chan sendiri adalah sebuah Novel yang secara tematik akan dengan mudah sekali difahami, bahkan oleh kaca mata “awam”; novel tersebut berisi tentang kisah dari “model” pendidikan alternatif yang hendak ditawarkan penulisnya. Namun, melalui pendekatan analisis struktural-konflik-keaktoran, saya akan mencoba masuk lebih dalam lagi kepada pembahasan terutama pada isu budaya “relasi kuasa-pengetahuan” antara nara didik dan pengajarnya.

Paulo Freire: adalah salah seorang dari sembilan pendidik Kristen baik dari kalangan Protestan maupun Katolik yang dianggap paling berpengaruh di abad ke-20. Berbeda dengan delapan pendidik lain yang kebanyakan lahir dan berkarya di negara maju, Freire dilahirkan dan berkarya, dalam sebagian besar hidupnya, di dunia ketiga. Freire dilahirkan di Recife, Brasil pada 19 September 1921. Ia berasal dari keluarga kelas menengah yang oleh karena keadaan ekonomi nasional yang buruk saat itu, membuatnya juga merasakan bahwa dalam masyarakat yang seperti ini terjadi ketertimpangan antara struktur masyarakat “atas dan bawah”.[5]

Dengan latar belakang sosial budaya inilah kemudian kerangka pemikiran Paulo Freire—yang secara historis memiliki akar historis tidak terlalu berbeda jauh dengan kondisi Indonesia saat ini—menjadi salah satu alasan utama untuk mengenal dan mencoba menggali kembali relevansi pemikirannya bagi pendidikan di Indonesia.

Garis besar pemikiran Paulo Freire:[6]

Pendidikan “Gaya Bank”.

Dalam sistem pendidikan yang diterapkan di Brasilia pada masa Freire, anak didik tidak dilihat sebagai yang dinamis dan punya kreasi tetapi dilihat sebagai benda yang seperti wadah untuk menampung sejumlah rumusan/dalil pengetahuan. Semakin banyak isi yang dimasukkan oleh gurunya dalam “wadah” itu, maka semakin baiklah gurunya. Karena itu semakin patuh wadah itu semakin baiklah ia. Jadi, murid/nara didik hanya menghafal seluruh yang diceritrakan oleh gurunya tanpa mengerti.

Nara didik adalah obyek dan bukan subyek. Pendidikan yang demikian itulah yang disebut oleh Freire sebagai pendidikan “gaya bank”. Disebut pendidikan gaya bank sebab dalam proses belajar mengajar guru tidak memberikan pengertian kepada nara didik, tetapi memindahkan sejumlah dalil atau rumusan kepada siswa untuk disimpan yang kemudian akan dikeluarkan dalam bentuk yang sama jika diperlukan. Nara didik adalah pengumpul dan penyimpan sejumlah pengetahuan, tetapi pada akhirnya nara didik itu sendiri yang “disimpan”, sebab miskinnya daya cipta. Karena itu pendidikan gaya bank menguntungkan kaum penindas dalam melestarikan penindasan terhadap sesamanya manusia; Seorang nara didik yang lulus dengan (hanya) keahlian ilmu mekanika yang diajarkan oleh pengajarnya dan tanpa proses belajar lagi misalnya, sampai kapanpun akan menjadi seorang mekanik yang disusruh-suruh dan senantiasa berada dibawah struktur-kuasa-ekonomi dan sosial pemilik perusahaan di tempat ia bekerja. Di mana, si pemilik modal tersebut bisa membeli “produk-pengetahuan” (baca:manusia berkeahlian khusus) yang sudah disiapkan oleh makelar-makelar pendidikan melalui lulusan-lulusannya. Melalui akses kuasa-modal, bahkan suatu saat pemilik modal tersebut bisa memecatnya apabila merasa sudah tidak dibutuhkan lagi dalam struktur mekanisme-produksi sebuah perusahaan.

Pendidikan “gaya bank” itu (Selanjutnya…)

Have any Question or Comment?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tentang Kami

Kelas Multikultural adalah gerakan publik untuk belajar menerima, mengapresiasi, memberi tempat dan melindungi kebhinekaan Indonesia. Program ini memberikan kesempatan bagi siswa untuk belajar di SMK Bakti Karya Parigi secara gratis. Program ini juga melibatkan masyarakat setempat dengan konsep Kampung Nusantara.